Ramadhan dan Madrasah Demokrasi: Menuju Politik yang Beradab

Ramadhan 1447 H yang jatuh pada 19 Februari 2026 bukan sekadar ritual menahan lapar dan haus. Bagi bangsa Indonesia, bulan suci ini merupakan momen refleksi mendalam untuk mengintegrasikan nilai-nilai spiritual ke dalam ruang publik, termasuk dalam berdemokrasi.

Di tengah dinamika politik, Ramadhan hadir sebagai "madrasah" atau sekolah untuk melatih pengendalian diri yang menjadi fondasi utama demokrasi yang sehat.

1. Pengendalian Diri: Inti dari Demokrasi dan Puasa

Esensi puasa adalah menahan diri dari segala hal yang membatalkan, termasuk menjaga lisan dan perilaku. Dalam konteks demokrasi, pengendalian diri sangat krusial untuk mencegah polarisasi. Demokrasi yang benar menuntut warga negara untuk mampu menahan nafsu kekuasaan yang menghalalkan segala cara, seperti penyebaran hoaks atau ujaran kebencian. Dengan semangat Ramadhan, kita diajak untuk mengedepankan etika dan moral dalam berpendapat.

2. Keadilan dan Kesalehan Sosial

Ramadhan mendidik umat untuk memiliki empati terhadap sesama melalui zakat dan sedekah. Nilai ini sejalan dengan tujuan demokrasi di Indonesia untuk mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat. Demokrasi yang benar bukan hanya soal memenangkan suara mayoritas, tetapi bagaimana kekuasaan tersebut digunakan untuk kemaslahatan publik dan melindungi hak-hak kelompok yang lemah.

3. Kejujuran (Amanah) dalam Bernegara

Salah satu nilai utama Ramadhan adalah kejujuran karena puasa adalah ibadah rahasia antara hamba dan Sang Pencipta. Dalam sistem demokrasi, kejujuran (integritas) adalah pilar utama. Menurut konsep KPU RI yang dalam hal ini sebagai penyelenggara pemilu, demokrasi yang sehat memerlukan pemilu dan proses politik yang LUBER JURDIL (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil). Tanpa kejujuran, demokrasi hanya akan menjadi prosedur formal tanpa substansi.

4. Musyawarah sebagai Perwujudan Sila Keempat

Islam dan demokrasi di Indonesia memiliki titik temu pada prinsip musyawarah. Sila keempat Pancasila menekankan "kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan". Ramadhan, dengan tradisi buka bersama dan diskusi di masjid, menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan dialog antarwarga yang berbeda pandangan politik, sehingga konflik dapat diredam dengan semangat kekeluargaan.

Kesimpulan

Menjalankan demokrasi yang benar di Indonesia berarti mempraktikkan nilai-nilai yang juga diajarkan dalam Ramadhan: kesabaran dalam perbedaan, kejujuran dalam bertindak, dan tanggung jawab terhadap sesama. Mari jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperkuat kedewasaan berpolitik, demi Indonesia yang lebih harmonis dan berkeadilan.

 

Penulis:

Eko Diding Achmadi (Staf SDM dan partisipasi masyarakat Komisi Pemilihan Umum Kabupaten Ponorogo)

 

Bagikan:

facebook twitter whatapps

Dilihat 13 Kali.